Tulisan


Memilih Teman dalam Menuntut Ilmu
بسم الله الرحمن الرحيم

Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa memberinya faedah (lmu) atau dia (teman tersebut) bisa mengambil faedah (ilmu) darinya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam :
“Hendaknya engkau menjadi seorang alim atau orang yang belajar. Jangan menjadi jenis yang ketiga, maka engkau akan binasa.” (HR. Ibnu Abdilbar dalam Kitabul ‘Ilmi)
Bila dia hendak ikut dalam pertemanan atau diajak berteman dengan seseorang yang menyia-nyiakan umurnya, tidak bisa memberinya faedah (ilmu), tidak pula bisa mengambil ilmu darinya, tidak bisa menolongnya untuk urusan yang sedang ditempuhnya (yakni ilmu), maka hendaknya dia dengan lemah lembut memutus jalan pertemanan tersebut dari awal, sebelum hubungan itu menjadi erat. Karena bila sesuatu telah kokoh, akan sulit menghilangkannya. Dan di antara ucapan yang beredar di kalangan fuqaha: “Mencegah lebih mudah daripada menghilangkan.”


Bila dia membutuhkan teman, hendaknya dia memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, baik dalam bergaul, dan tidak banyak berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dia mencoba mengingat, teman ini bisa menolongnya. Bila dia sedang membutuhkan, temannya ini bisa membantu. Bila dia sedang bosan, teman ini bisa menyabarkan dirinya.

(Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Ibnu Jamaah Al-Kinani Rahimahullah, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, hal. 83-84)

Disalin dari Majalah Asy Syariah Vol. V/No. 58/1431 H/2010


Karena Ada Hati Yang Kami Jaga




Mata ini.. Tak sanggup untuk saling menatap lama.. Kami tkut terlena dengan keindahan di depannya.. Bkn kami angkuh,, Tapi,karena ada hati yg kami jaga..

Telinga ini.. Tak sanggup bila mendengar suara dan tawanya.. Kami takut nasihat2 manis yang kami bisikkan bukan karena-Nya, namun terselip setan di dalamya.. Bukan kami mencoba tuli dan tak peduli Tapi, karena ada hati yang kami jaga..

Mulut ini.. Tak sanggup berkata manis dan manja., kami blum mampu berjanji mengukir cinta sehidup semati.. Bukan kami pengecut dan takut berdusta.. Tapi, karena ada hati yang kami jaga...

Tangan ini.. Tak sanggup berjabat dan meraih.. kami takut sentuhan lembut membuat kami lupa.. Dan setan mengikatnya sehingga tak sanggup lagi melepasnya.. Bukan kami sok suci, Tapi, karena ada hati yang kami jaga..

Kaki kami... Berat berjalan beriringan.. kami belum memilki arah untuk melangkah bersama.. Bukan karena kami tak percaya,, Tapi, karena ada hati yang kami jaga..

namun, bagaimana dengan hati kami? Walaupun kami tak saling melihat,mendengar dan berbicara,, namun hati ini,. Bukankah sering bertemu di setiap ruang dan waktu?

Ya ALLAH,, Bukankah hati ini milik-Mu semata?

Maafkan kami yang sering mengingkarinya.. Walaupun rasa ini sering bersaing, Tapi kami tak sanggup Ya RABB, untuk menduaklan hati-Mu

Ya ALLAH.. kau kirimkan kami cinta yang harus kami jaga hingga perjajian suci tiba,.

Cinta.. Membuat kami melihat tanpa mata, mendengar tanpa suara,,berbicara tanpa kata.. Hanya ada hati dan rasa..

Karena itu kami menjaga..Milik Allah Azza Wa Jalla

Menjaga dalam keikhlasan hati, menjaga dalam kesucian khayalan, menjaga dalam ungkapan lisan, dan menjaga dalam ekspresi diri..

seperti Fathimah dan 'Ali, saling mencintai dalam kerahasiaan yang paling rapat, kepasrahan yang kuat dan ikhtiar suci yang menemukan jalannya...dengan karunia ALLAH ! Jika kita husnuzhzhon pada-Nya..

"Katakanlah hai Muhammad: Jika adalah kalian mencintai ALLAH, maka ikutilah aku. Maka ALLAHakan mencintai kalian dan Ia ampuni segala dosa kalian. Dan ALLAH, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(Ali 'Imran:31)


Saat kemampuan menikah belum di tangan, biarlah cinta berekspresi menjadi keshalihan,perbaikan diri hari demi hari. Karena Allah telah berjanji :(dalan surah An Nur 26)

Nb:artikel ini dari seorang sahabat (terima kasih..sudah mengingatkan ) dengan sedikit modifikasi..

Semoga bermanfaat..

‎::: INDAHNYA MEMAAFKAN :::

Seringkali terjadi seseorang merasa berat memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi bila orang tersebut meninggalkan bekas luka yang terasa menyakitkan. Luka yang kadang mengaga menimbulkan duka yang mendalam. Luka yang sulit untuk dilupakan.. 
Semakin besar kesalahan semakin perih luka semakin sulit dilupakan bahkan seringkali tanpa disadari menimbulkan dendam. Allah mengajarkan kita untuk memaafkan. Memaafkan adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Obat yang paling ampuh untuk menghilangkan kebencian dan dendam. Cara termudah untuk bisa memaafkan seseorang adalah dengan mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan orang lain pada kita. Obat terampuh untuk mengobati hati adalah dengan mengingat kebaikan orang lain dan mengubur kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan. Dengan begitu kita tidak akan sempat melihat keburukan-keburukannya. 
Kebaikan-kebaikan nya akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang. Secara psikologis orang yang memaafkan lebih beruntung dari orang yang dimaafkan. Hati yang penuh maaf akan menjadi bersih dan bersinar, karena di dalam dadanya tidak ada tersimpan kebencian dan kekotoran jiwa serta penyakit hati, yang seringkali menimbulkan penyakit-penyakit lainnya. Hati yang terbebas dari dendam dan kebencian.... Hati yang didalamnya penuh rasa syukur... 
Hati yang tidak membiarkan tumbuhnya benih-benih kebencian. Hati yang selalu terpaut dan selalu tertarik untuk selalu melakukan kebaikan. Kebaikan yang akan menarik kebaikan lainnya. Yang dengannya hati menjadi lebih bersinar, bening dan suci.Alangkah indahnya. Memaafkan mungkin amat berat untuk diberikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memaafkan kita akan dapat mengobati hati yang telah terluka. maaf yang diberikan secara ikhlas bagaikan pisau bedah yang membuang segala parut luka emosi Orang yang hatinya bersinar tidak akan membiarkan dihatinya tumbuh dendam. 
Orang yang hatinya bersih tidak akan membiarkan dihatinya timbul noda-noda yang menurunkan kwalitas dirinya dimata Allah dan di mata manusia. Orang yang menuju jalan Tuhan dan ridha Ilahi, jiwanya akan diisi dengan hal-hal yang membuatnya lupa akan keburukan-keburukan orang lain. Memang memaafkan lebih sulit daripada meminta maaf, justru disitulah kemuliaan diri seseorang diperlihatkan. Orang yang dihatinya menyimpan dendam tanpa dia sadari sebenarnya secara pelan-pelan menghancurkan dirinya sendiri. Secara pelan-pelan dia mengotori jiwanya yang tadinya bersih. Orang yang menyimpan dendam bagaikan menyimpan bara di dalam dada, yang akhirnya membakar diri nya sendiri. Orang yang membiarkan di dalam dirinya berkembang kebencian dan dendam adalah orang yang tidak bisa menikmati arti kebahagian. Orang yang tidak dapat menikmati indahnya kebeningan jiwa. 
Orang yang tidak bisa menikmati indahnya kehidupan. Dendam dan kebencian tidak akan pernah bisa bersatu dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci. Salah satu darinya akan mengalahkan yang lainnya. Begitu kebencian memenangkan pertarungan dalam jiwa dan tumbuh dengan subur , itulah tandanya hati kita sudah mulai ditumbuhi kekotoran jiwa dan bila itu dibiarkan berkembang jadilah dia ‘hati yang sakit’ . 
Bila hati yang sakit tidak segera diobati maka jadilah dia ‘hati yang mati’. Hati yang akhirnya tidak bisa menerima kebenaran. Hati yang tidak dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Adakalanya kita merasakan himpitan perasaan yang sangat menyesakkan. Bila tidak bisa diatasi sendiri boleh saja mencari teman yang bisa dijadikan tempat berbagi. Tapi carilah teman yang bisa menentramkan dan mendinginkan suasana hati, bukan teman yang justru membakar emosi dalam dada. 
Bukan teman yang justru membuat dada semakin panas. Namun teman yang bisa merubah panas menjadi menyejukkan. Teman yang bisa merubah tangis menjadi tawa. Belajar memaafkan adalah salah satu terapi penyakit hati. Begitu kita memaafkan dan bisa menerimanya , maka beban jiwa semakin berkurang, luka yang tadinya menganga semakin menyempit dan akhirnya menutup . Dan bila benci dan dendam telah hilang sama sekali dari hati , maka jiwa semakin bening, hati semakin bersih, hidup semakin tentram semua terasa indah , jiwa dan fisik semakin sehat . Dengan begitu kita semakin mudah untuk merasakan indahnya hidup, nikmatnya bersyukur dan nikmatnya kasih sayang dengan sesama. 
Dan hatipun menjadi ikhlas. Dengan memaafkan keadaan bisa berubah 180 derajat , orang yang tadinya musuh berubah menjadi sahabat yang terbaik. Hal yang pertama yang dapat kita lakukan ketika merasakan sakit di hati, adalah ketika kita berdoa dan memohon kekuatan Nya, seraya berkata , ‘Ya Allah , hamba telah memaafkannya, sembuhkanlah hamba Ya Rabbi, jangan biarkan hati ini kotor karena perbuatan orang lain. Jangan biarkan hati ini ternoda; Izinkanlah hamba memiliki dan menikmati indahnya kebeningan jiwa, Izinkan hamba merasakan indahnya kemulian-MU . Karena hanya Ridha- Mu lah Ya Allah yang hamba harapkan’ . rasakanlah bedanya ‘saat itu juga hati akan terasa sejuk dan lapang. Karena kita tidak membiarkan terbukanya pintu-pintu syetan untuk masuknya sesuatu yang buruk. Tidak membiarkan hati ternoda. Tidak membiarkan jiwa tercemar kebencian. ....InsyaAllah. *** Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah perangai yang serendah-rendahnya. Membalas kejahatan dengan kejahatan, bukanlah berperikemanusiaan. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah hal biasa. 
Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah cita-cita kemanusiaan yang setinggi -tingginya. Kita harus sanggup hidup untuk meraih cita-cita itu terus tumbuh dan tumbuh... Kasih sayang dan kekerasan selalu berperang di hati manusia seperti malapetaka yang berperang di langit malam yang pekat. Tetapi kasih sayang selalu dapat mengalahkan kekerasan. Karena kasih sayang adalah anugerah Ilahi. Wallahu a’lam bishawwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar